Archive for the ‘Sepenggal Kisah’ Category

Bank Budi

“Coba baca The Zahir. Buku yang bagus.”

Saya tersenyum menanggapi, “Dari dulu udah niat, tapi belum kesampaian juga.”

“Di dalamnya ada istilah Bank Budi….”

“Apa yang dimaksud dengan Bank Budi?”

“Kau tahu. Semua orang tahu.”

“Mungkin, tapi aku belum bisa menangkap sepenuhnya apa yang kaumaksud.”

“Istilah itu diperkenalkan pertama kali oleh seorang penulis Amerika. Bank Budi adalah bank paling kuat di dunia, dan kau bisa menemukannya di setiap aspek kehidupan.”

“Ya, tapi aku berasal dari negara yang tidak punya tradisi membaca. Jasa apa yang bisa kusumbangkan pada orang lain?”

“Sama sekali bukan masalah. Kuberi satu contoh: aku tahu kau penulis yang punya masa depan, dan suatu hari nanti kau akan sangat berpengaruh. Aku tahu karena, seperti kau, aku dulu juga punya ambisi, merdeka, jujur. Sekarang aku tidak lagi punya energi seperti dulu, tapi aku ingin membantumu karena aku belum bisa atau belum mau berhenti. Aku belum ingin pensiun. Aku masih memimpikan perjuangan hidup, kekuasaan, dan kemegahan.

“Aku mulai menyimpan di rekeningmu–bukan simpanan uang, tapi kontak. Kukenalkan kau pada orang ini dan orang itu, aku mengatur perjanjian-perjanjian, selama tidak melanggar hukum. Kau tahu kau berutang budi padaku, tapi aku tak pernah minta apa pun darimu.”

“Dan suatu hari…”

“Persis. Suatu hari, aku akan minta tolong padamu dan kau bisa saja mengatakan ‘Tidak’, tapi kausadari bahwa kau berutang budi padaku. Kaulakukan apa yang kuminta, aku terus membantumu, dan orang-orang lain melihat kau orang yang tahu membalas budi, jadi mereka pun mulai menyimpan di rekeningmu–selalu dalam bentuk kontak, karena dunia ini hanya terdiri atas kontak, tidak ada yang lain lagi. Mereka pun pada suatu hari akan minta bantuan padamu, dan kau akan menghormati dan membantu orang-orang yang pernah membantumu, dan, pada saatnya, jaringanmu akan melebar ke seluruh penjuru dunia, kau akan kenal semua orang yang perlu kaukenal, dan pengaruhmu akan tumbuh semakin besar.”

[disadur dari The Zahir karya Paulo Coelho, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan Kedua 2006, hlm.53-54]

“Itulah sebabnya saya senang berteman, dan enggan punya musuh.”

Itukah sebabnya kamu takingin kehilangan saya, agar utang budimu pada saya terbayar lunas? gumam saya dalam hati.

“Yah, betapa tidak mengenakkannya punya musuh,” komentar saya pelan.

“Dalam hidup kita selalu seperti itu,” lanjutnya. “Berteman, berbagi kebaikan, dengan harapan, langsung maupun tidak, pada suatu saat kebaikan itu akan kita terima kembali.”

“Selalu seperti itukah?”

“Ya. Selalu seperti itu.”

Lalu, apakah kita layak bertanya pada seseorang atau semua orang yang terlalu baik pada kita mengenai makna kebaikannya? Seperti, ‘kenapa kamu terlalu baik’? ‘Apakah untuk mendapatkan balasan kebaikan’? ‘Atau dengan maksud-maksud tertentu’? Perlukah pertanyaan-pertanyaan itu? Toh mereka, sadar ataupun tidak, sedang “menabung” di Bank Budi hidup kita, bukan? Dalam keyakinan kita, mereka juga sedang “menabung pahala” untuk kebahagiaan mereka di akhirat kelak. Kelak, Dia akan membalasnya dengan setimpal. Jadi, kenapa kamu masih saja berlaku seakan kamu wajib membalas segala kebaikan-kebaikan saya? Terpaksakah kamu?

“Kamu baik sekali.” ucap saya sambil tersenyum lebar.

“Ya. Kita kan teman.” balasnya dengan senyuman kecil.

“Ya. Terima kasih.”

Lalu kami mengucapkan salam perpisahan, seperti biasa, seakan-akan tanpa beban, klise:

“Sampai bertemu lagi, Teman.”

Kami masing-masing berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan, dan saya benar-benar ragu bahwa saya akan bertemu lagi dengan teman saya yang satu ini, di waktu-waktu berikutnya.

Jatinangor, Connect No.10, pkl.10.20

Hujan Berselimut Kabut: Tujuh Penggal Episode [Re-Post]

1
“Tunggu, apa kita pernah bertemu?”
Kalimat terawal yang meluncur begitu saja dari mulutku.
Hujan masih turun rintik-rintik, mencipta titik-titik mungil di rambutnya, wajahnya, punggung tangannya…
“Apa kita pernah bertemu?” ulangku sembari mendekat beberapa langkah padanya.
Hujan masih turun rintik-rintik, dan kedua bola mataku menatapnya tajam, penuh selidik sekaligus ingin tahu…
Ia membisu dan malah balas menatapku.
“Jawablah, saya mohon…” ucapku lagi.
Ya, sepertinya kita pernah bertemu, di suatu tempat, di suatu ruang waktu. Hanya saja: di mana dan kapan?
“Apa kita ada untuk saling mencari?”
Aku kian mendekat padanya, menghapus jarak pembatas.
“Ya, memang begitu,” jawabnya, akhirnya.
Hujan masih turun rintik-rintik, dan tetes airnya jatuh ke pipi, menindih air mata yang keluar dari mataku…
“Kita sudah saling menemukan, jadi apalagi yang kita nanti?” tambahnya.
Jemarinya mulai menggenggam tangan kananku, dan ia mengajakku melangkah.
“Ke mana?” aku bersuara, walau lirih.
Ia menatapku sambil tersenyum mendamaikan.
“Ke tempat yang jadi tujuan awal hidup kita, impian seluruh manusia di bumi, dan aku selalu bermimpi menujunya bersamamu…”
Hujan tidak lagi turun, dan seberkas cahaya perlahan muncul dari sekujur tubuh lelaki itu. Hangat… merembes masuk ke dalam aliran darahku, menguapkan air mataku.
“Tempat apa itu?” tanyaku sambil membalas senyumnya, bahagia.
“Surga.”

2
“Aduh! Ga usah jitak gitu dong! Sakit nih!”
“Raini-ku sayang, kamu tuh ya kalo udah ngebet pengen nikah jangan cuma berani mimpi dong! Bilang aja ke murobbiyah kita tercinta, ntar bliau cariin.”
“Emang ada yang mau sama aku, Sri?”
“Insya Allah! Kamu jangan pesimis gitu dong! Kriteria: ikhwan hanif, aktivis, cakep hatinya, anak sulung, lebih tua beberapa taun, cinta sama Allah di atas segalanya, humoris, dewasa, bijaksana, cerdas, romantis, gawe jelas, dan jago masak, bener ga?”
“Em… idealnya si gitu, Sri, tapi… kayaknya gak mungkin deh! Gak pantes aku mimpi ada ikhwan kayak gitu yang minta aku jadi istrinya! Aku kan bukan aktivis, belom pantes disebut akhwat, wawasan agama terbatas, urakan, manja, egois, dan ga bisa masak!”
“Iiiih, Raini! Optimis dong! Gitu-gitu juga kamu manis, lucu, humoris, setia, ga banyak maunya, ga matre, ga liat fisik, trus… ah, pokonya kamu juga punya banyak kelebihan kok! Percaya deh!”
“Lagipula, emang ada ikhwan yang menuhin semua kriteria itu?”

3
Ia menyukai hujan, teramat sangat suka. Mungkin karena ia terlahir di kota yang terkenal sebagai Kota Hujan di Indonesia ini. Yang jelas, satu hal yang paling dinantikannya adalah saat awan berlapis mendung, dan tetes-tetes hujan membasahi bumi. Biasanya ia akan keluar dari rumah, lalu berdiri beberapa saat sambil menengadahkan kepala, memejamkan mata, mengulas senyum di wajah, dan meraup air hujan dengan kedua belah tangannya. Ia tidak peduli hujan menguyupkan bajunya, merembesi sekujur tubuhnya. Ia tidak memedulikan segala kemungkinan yang akan terjadi jika ia melakukan ini semua, entah itu kepalanya yang bisa saja menjadi pening, atau badannya yang bisa saja menggigil kedinginan.
Yang ia indrai hanya kenikmatan dan kepuasan itu.
Hujan:
Anugerah terindah yang Allah ciptakan, menyegarkan kekeringan bumi, menghapus emosi dan menenangkan jiwa.
Sejak ia kecil, sejak ia pertama kali menyadari rahasia alam yang tampak begitu indah di matanya, ia mulai menumbuhkan kebiasaan itu. Berdiri sendirian merasakan titik-titik air hujan menitiki tubuhnya, seakan membasuh kekeruhan hatinya, mengembalikan kejernihannya.
Hujan kali ini turun rintik-rintik.
Entah kenapa, kali ini bukan hanya tetes-tetes air hujan yang mengaliri tubuhnya, tetapi ada tetesan lain, mengalir dari kedua matanya yang terpejam.
Air mata.
Baru kali ini ia merasa sendirian. Baru kali ini ia menyadari makna sendiri dan sepi.
Ia tenggelam dalam larutan kesenyapan yang pekat.
Ia merasa ingin didampingi.
Ia merasa membutuhkan teman untuk berbagi rasa.
Ia ingin menikmati hujan dengan seorang manusia yang berarti.
Dan tentu saja: yang mencintai hujan sepertinya.
Hujan, adakah bidadari di dunia ini yang mencintaimu sepertiku?
Jika ada, datangkanlah ia ke tempatku.

4
Raini memandangi selembar foto setengah badan berukuran 4R yang terselip di dalam map itu. Duhai, sepertinya lelaki ini begitu tidak asing… apa hanya perasaanku? Rambutnya, matanya, senyumnya…
“Hush, fotonya jangan diliatin terus gitu! Ntar belom juga ketemu kamu udah jatuh hati, heuheuheu…”
Raini tersentak dan cepat-cepat membereskan kembali berkas-berkas yang sedang diamatinya. Teguran murobbiyah-nya membuatnya beristigfar berkali-kali dengan hati kebat-kebit. Wajahnya merona, malu.
“Gimana? Cocok? Betapa takdir Allah sangat terencana dan indah. Beberapa menit sebelum kamu ke sini, eh ada yang nganterin ini. Niatnya sama dengan kamu, Ra. Jangan-jangan kalian berjodoh…”
Wallahualam, Teh. Mungkin ya, mungkin juga gak, cuma Allah yang tau…”
“Yaudah, kamu bawa aja dulu, baca bener-bener datanya. Jangan lupa istikharah. Kapan pun kamu siap, hubungi saya, nanti saya urus semuanya, Insya Allah.”
Jazakillah, Teh.”
“Hari ini juga saya kabari beliau dan ngasih data kamu ke dia. Banyak-banyak berdoa ya, Ra. Semoga Allah ngasih kamu yang terbaik,”
“Yaah… amin-in aja deh, Teh.”

5
Shinta Nuraini.
Panggilan saya bukan Shinta atau Nur, tapi Raini.
Alasannya sederhana saja:
Karena sejak kecil, saya sangat mencintai hujan.
Seandainya hujan adalah sebentuk benda yang bisa saya genggam, akan saya bawa kemana-mana. Dengan begitu, saya bisa menikmatinya kapan saja di mana pun yang saya inginkan.

6
Kabut Pratama Putra.
Bisa ditebak, saya putra pertama. Adik saya perempuan, masih SMA.
Saya biasa dipanggil Kaka, lengkapnya Kabut.
Walaupun nama saya Kabut, tapi saya tidak suka kabut, karena kabut penuh ketidakpastian dan mengaburkan apa yang seharusnya jelas terlihat. Saya tidak ingin seperti itu. Saya lebih suka hujan, karena saya ingin menjadi penyegar kekeringan dunia.

7
Suatu hari…
Ada guratan senyum terukir di dua wajah.
Ada getaran ganjil berdenyut di dua jantung.
Ada jutaan syukur terucap di dua mulut.
Ada buncahan bahagia menebal di dua hati.
Ada bulatan tekad terpatri di dua jiwa.
Ada dua manusia saling menautkan jemari.
Keduanya menikmati hujan berdampingan.
Keduanya saling menatap dan tertawa ringan.
Keduanya menikmati tetes-tetes air yang membasahi tubuh.
Hingga waktu seakan berhenti berdetak.
Lalu hujan berselimut kabut, malam itu.

[reaksi atas rasa rindu hati ini akan hujan yang sudah sangat lama terpenjara matahari -- ditemani lagu-lagu Dewi Lestari]

NB:

Pagi ini benar-benar pagi yang indah. Sejak keluar rumah hingga menginjakkan kaki di Jatinangor, rintik hujan takkunjung berhenti :) Tiba-tiba saja saya ingin me-Re-Post cerpen yang saya buat sekitar 20 bulan yang lalu ini. Tiba-tiba saja saya merindukannya. Heuheuheu…

Oya, cerpen ini dapat dilihat juga di sini.

Jatinangor, Connect No.7, pkl.07.55