Archive for the ‘Puisi’ Category

Biar…

Semesta, aku merinduinya

Sampaikan utuh pesanku,

jangan terputus!

Biar ia menjelma menjadi angin

yang membelaiku lembut

Biar ia menjelma menjadi rinai hujan

yang membuatku tenang

Biar ia menjelma menjadi detik, menit, dan jam

yang membuatku mengharapkan perjumpaan

Biar…

Sebab aku rindu!


[Masih lima purnama lagi menuju akhir penantian,

semoga sabar itu tetap ada.]


Jatinangor, Connect No.6, pkl.10.30.

Adakah Pelangi

Enyah sudah hujan dini hari

meninggalkan sepi

juga harunya cakrawala

 

Sang Putri terjerembab 

dari fatamorgana ke atas nyata

lalu merintih:

 

“Tuhan, adakah pelangi di sana?

Karena malam taksudi beranjak,

dan hujanpun takhendak kembali.”

 

Dipati Ukur, di sebuah warnet remang-remang, pkl.13.23

Sebuah Jarak

Yakin tak bisa menyimpan kata

kutorehkan saja  rindu pada

sebatang pohon senyap

kutuliskan rasa nyeri

dengan mesti

 

malam, angin, dan sebuah jarak

 

Depok, 2003

 

["Rindu" karya Muhammad Irfan Hidayatullah dalam buku kumpulan puisi Perjalanan yang Bulan, 2007]

 

Jatinangor, Connect No.7, pkl.11.47

Teruntuk Gadis Gurun Sahara(mu)

1
senyum itu, Manisku
mengingatkanku pada
sebaris not yang harmonis
maka tiap pagi
aku selalu menunggu kau memainkannya
bahkan kutunggu
sampai burung-burung itu
taklagi bernyanyi

14 Maret 2007    21.49

2
melulu masalah air mata
cerita darinya takpernah berganti
lagi-lagi tentang sepasang merpati yang ditembak pemburu
seperti takada cinta
padahal tiap hari kutaburkan untuknya

19 Maret 2007    22.38

3
lagi-lagi ada hujan di matanya
entah sedih macam apa yang menyentuhnya
sementara makna hanya nol saja
dan kata kini cuma bangkai yang nazar saja
takbernafsu memakannya
dan cinta sama nasibnya

26 Maret 2007    21.50

4
sakit ini takpernah hilang, Sayang
kau bisu aku kelu
ruang kita kedap suara
taksampaikah padamu nyanyian itu
atau kita sama-sama jatuh cinta pada luka
ah palsu!

07 Mei 2007    23.15

5
Manis, bukankah kau yang telah panggilkan angin
untuk terbangkan layang-layangku
saat kau bersiul, takhanya angin yang datang
tapi juga cinta yang bawa tarian
lalu aku rindu gemulaimu

24 Mei 2007    22.01

6
nyanyi malam taklagi merdu
sebab telah sunting bisu
ia cemburu pada mesin yang gemuruh
tapi rinduku takhilang nyali
walau manusia saling gonggong
usir anjing yang melolong
dan malam terus sunyi

25 Mei 2007    23.23

7
angan adalah ruang tanpa gravitasi
semua melayang mencapai gitanya
tanpa sayap tapi melesat
dan gitaku adalah kamu
maka ijinkan aku lesap bersama mimpimu,
wahai pengantinku

26 Mei 2007    23.20

8
siapa sebenarnya kamu?
mengetuk pintu malam buta,
lalu menyimpan bunga.
kalau saja aku tahu,
ingin aku mengajakmu nikmati pagi
dengan segelas teh melati
apa bisa kau penuhi?

09 Juni 2007    23.36

9
aku lelah menggambar tanda untuk cinta
semuanya seperti remang di matamu
aku penat mencari cara
sebab takjua kau terbangkan sayap-sayap itu
apa harus migrasiku
untuk mencari yang punya hati?

14 Juni 2007    20.54

10
ia mau aku jadi sayapnya
tapi itu luka
dan aku takpunya hati untuk dibagi
hati telah mati,
ditikam beribu cinta imitasi
kutunggu ia bereinkarnasi
menjadi sepotong senja

20 Juni 2007    21.51

11
kemarin
kutemukan bunga di kerudungmu layu, Manisku
tapi masih ada senja yang keemasan
yang terus menyepuh rinduku
dan senja itu selalu terbit dari matamu
dengan seribu siluet yang sayu

28 Juli 2007    21.03

12
walau mungkin malam mereka
adalah malam jahanam
tapi kita itu do’a
maka sapalah, Sayang
dan ia akan menghadiahkanmu
seribu mimpi dan pagi murni

06 Agustus 2007    00.03

13
setiap kulihat bulan keperakan
menggantung di langit temaram,
aku ingat kamu
sebab keteduhannya sama benar
dengan keteduhan matamu
membuatku jatuh cinta  pada cahaya yang sederhana
percaya?

06 Agustus 2007    19.26

14
desau angin yang kau dengar
adalah rinduku, Manisku
bisuku sebenarnya semacam kasih sayang
ia lebih bermakna dari seribu surat cinta
dan mataku padamu
adalah bunga di altar isyitar

04 September 2007    23.18

NB:

Puisi-puisi di atas adalah karya sahabat saya yang bernama pena Zack Al Gebra. Semua puisi itu pernah dikirimnya melalui SMS pada saya. Sejatinya, puisi-puisi itu bukan ditujukan untuk saya, tetapi untuk seorang wanita dambaan hati Zack sejak lama. Zack menjulukinya Gadis Gurun Sahara. Sungguh tepat menurut saya, karena siapa pun yang mengenal si gadis akan sependapat bahwa gadis itu bagai oase di gurun pasir: menyejukkan hati siapa pun yang berada di dekatnya. Puisi-puisi itu dikirim Zack pada saya untuk saya kritisi, bagus atau tidaknya. Tidak tahu dia bahwa saya sangat mengagumi puisi-puisi buah tangannya. Baca saja, romantis dan puitis sekali, bukan? Menurut saya, kata per kata-nya jauh dari kesan gombal yang dibuat-buat. Sebaliknya, justru mencerminkan ketulusan dan kebeningan hati seorang manusia saat mendamba.

Jika harus memilih mana yang paling saya sukai, di antara semuanya, saya sangat menyukai puisi No.13. Mungkin karena saya selalu memandangi hujan jika sedang merindu (halah, apa hubungannya? heuheuheu…). Seandainya saja Zack memiliki keberanian untuk mempersembahkan semua puisi ini sekaligus meminang sang pujaan, niscaya gadis itu akan luluh hatinya. Yah, semoga Allah swt. menakdirkan seorang bidadari untukmu, Sahabatku, di dunia dan akhirat nanti. Siapatahu Allah swt. menakdirkan sang oase untukmu. Seperti kata ibu Fahri di film Ayat-Ayat Cinta: “Siapa pun bisa menjadi jodohmu, Fahri.” Siapa pun bisa menjadi jodohmu, Zack. Jadi, amin-in aja, dan tetap ikhtiar… :)

Ngomong-ngomong, kelak, saya akan “paksa” suami saya untuk membuatkan saya puisi-puisi yang jauh lebih bagus dari puisi-puisi ini, dan dia harus mampu! Heuheuheu… ;)

Diiringi petikan gitar Kaki King yang menakjubkan dalam “Bari Improv” (OST August Rush), setelah terjadi percakapan singkat antara saya dan Zack Al Gebra, Hegarmanah, 20 April 2008, pkl.21.12.

Takperlu Tahu

Kau takperlu tahu

sesering apa aku mengingatmu

serindu apa aku padamu

seperih apa aku memendam asa

 

Kau juga takkan pernah mengira

sebanyak apa aku mendo’akanmu

setiap detik setiap menit setiap jam

semua takperlu kautahu

 

Kau takperlu tahu

rinduku terhadapmu

bahagiaku untukmu

sedihku kehilanganmu

 

Karena kita takpernah tahu

apa yang kita sama-sama tahu

dalam hati

 

Kau hanya perlu tahu

semua itu takpenting

setakpenting awan yang merela hilang karena hujan*

setakpenting kayu yang merela hangus karena api**

setakpenting adaku

 

Dan kita takperlu tahu apapun

selama apa aku akan menantimu

mungkin hingga kautangkap kilau seorang Hawa

yang tertakdir hanya untukmu

entah siapa entah di mana

 

Lalu separuh duniaku akan hilang

sehilang langkahmu yang akan menjauh

pergi

 

NB:

Heu… kambuh lagi melankolisnya >_<

Ya Allah, ampuni diriku yang lemah ini….

* dan ** diadaptasi dari puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono

 

Jatinangor, Connect No.10 pkl.10.20

Salam Perkenalan dari Sang Putri

Kumpulan sketsa ini tercipta karena sebuah ketidaksengajaan. Ada kesalahan yang saya perbuat sehingga saya terpaksa menghapus kumpulan sketsa saya di blogspot sekitar 1 jam yang lalu. Heuheuheu… :D Karena itu, kumpulan sketsa saya yang baru di Wordpress ini saya buka dengan sebuah puisi:

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu
hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan
sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya
kenapa.
            Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-
rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

(1973)

(“Pada Suatu Pagi Hari” karya Sapardi Djoko Damono dalam buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni)

Selamat datang di sini…
Saya hanya seorang pencinta hujan yang gemar berkhayal, bermimpi, dan bercerita.
Ada begitu banyak cinta dalam diri ini yang taktercurahkan.
Takterhitung berapa banyak mimpi yang belum jua terwujudkan.
Seluruh renungan, lamunan, ide, inspirasi, aspirasi, rasa marah, kesal, sedih, gembira…
Ah, sudah terlalu jarang saya deskripsikan dalam rentetan kata-kata.

Selain itu,
manusia-manusia satu per satu datang mengetuk “pintu kehidupan” saya, masuk, kemudian beranjak pergi.
Ada yang berpamitan, ada yang tidak.
Ada yang meninggalkan jejak, ada yang begitu saja terlupakan.
Kenangan pun semakin membukit bahkan menggunung.

Semua itu mendesak saya untuk kembali menggerakkan jemari ini untuk menuliskannya.

Sudikah membaca kisah saya?
Jika ya, silakan mulai membaca.
Lalu, mari kita berbagi.

NB:
Jika ada waktu, silakan berkunjung ke blog saya yang “numpang” di Friendster.
Jika tidak sempat, sebagian postingan yang ada di sana (juga di blogspot yang terpaksa saya hapus) telah saya seleksi dan saya Re-Post di sini.
Selamat membaca!

(^^;)

[Rosi Rosmala Dewi a.k.a. Putri Hujan]

Jatinangor, Connect No.12 pkl.12.52