Archive for April, 2008
Dia Terlalu Baik
Dia terlalu baik, sementara saya seringkali tidak menjadikannya prioritas nomor satu dalam hidup saya…
Kemarin, saya menghadap Dosen Pembimbing 2 saya, Pak Tatang Suparman, tepat pukul 13.30. Garnis, sahabat saya, juga Heppi, adik kelas saya, menyertai saya untuk sama-sama bimbingan 2 bab awal skripsi. Garnis dipersilakan Pak Tatang untuk terlebih dahulu berkonsultasi dengan beliau. Lama sekali, mungkin ada sekitar 35 menit. Banyak koreksi dan saran dari beliau untuk sahabat saya ini. Hingga akhirnya tiba giliran saya. Draft Bab 1 dan Bab 2 saya serahkan, lalu beliau membaca halaman pertama sekilas. Setelah itu, dibukanya lembar demi lembar draft itu sekilas. Beliau tidak bicara apa pun, sama sekali berbeda saat beliau mengoreksi dan menyarankan ini-itu pada Garnis. Saya malah semakin gugup dan berdo’a dalam hati:
Ya Allah, semoga sudah cukup…
Semenit… lima menit… Akhirnya, saya pun bertanya:
“Gimana, Pak? Ada yang perlu saya tambahkan?”
Beliau mengerutkan kening sejenak, lalu menanyakan pada saya beberapa hal yang berkenaan dengan isi draft saya. Syukurlah, apa yang beliau tanyakan tidak melenceng jauh dari inti yang ingin saya sampaikan dalam draft itu. Saya menjawab dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti. Kami pun sempat berdebat tentang poin rumusan masalah di Bab 1. Namun, beliau lebih banyak manggut-manggut tanpa berkomentar atau mengoreksi apa yang saya jelaskan.
Saya pun bertanya lagi, “Jadi gimana, Pak?”
Beliau terdiam, lalu menyerahkan draft itu ke tangan saya lagi.
“Saya kira sudah cukup. Saran saya, kamu kurangi satu poin rumusan masalah di nomor 2. Argumennya, kamu akan mengalami kesulitan jika itu tetap ada. Mungkin penelitian bisa memakan waktu lama. Itu saja.”
Saya tertegun. Rasanya ada rintik hujan menjatuhi seluruh tubuh. Cees… sejuk tiada terkira. Beban itu pun terangkat. Senyum saya pun mengembang.
“Jadi saya langsung ke Bab 3, Pak?”
“Ya, hubungi saya nanti ya.”
Duh, rasanya saya ingin menari-nari penuh kegembiraan saat itu juga
Namun, masih ada yang saya resahkan, yaitu saya belum selesai mengerjakan awal Bab 3 yang diminta oleh Dosen Pembimbing 1 saya, Bu Wagiati, yang seharusnya diserahkan hari ini. Beban saya belum sepenuhnya terangkat, hingga tadi malam HP saya berbunyi tanda ada satu SMS masuk:
[Dozen_Wagiati] Ros besok sy tdk bs mengajar, tolng ksih tau tman2.
Artinya, bimbingan ditunda dan saya masih punya waktu satu minggu untuk menyelesaikan draft awal Bab 3! Sungguh, rasanya saya tidak percaya. Saya benar-benar dimudahkan, dan teguran untuk kemalasan saya bukanlah hukuman, tapi anugerah.
Alhamdulillahi rabbil alamin…
Betapa Allah senantiasa terlalu baik pada saya…
Jatinangor, Connect No.10, pkl.09.20
Mudahkanlah…
“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.”
(Q.S. Al Insyirah: 5-6)
Saya sedang mencoba untuk menghayati ayat ini dan menjadikannya motivator terhebat saya dalam mengatasi kemalasan yang semakin sering melanda belakangan ini
Ya Allah, mudahkanlah hamba di setiap langkah ini…
Jatinangor, Connect No.7, pkl.09.02.
Teruntuk Gadis Gurun Sahara(mu)
1
senyum itu, Manisku
mengingatkanku pada
sebaris not yang harmonis
maka tiap pagi
aku selalu menunggu kau memainkannya
bahkan kutunggu
sampai burung-burung itu
taklagi bernyanyi
14 Maret 2007 21.49
2
melulu masalah air mata
cerita darinya takpernah berganti
lagi-lagi tentang sepasang merpati yang ditembak pemburu
seperti takada cinta
padahal tiap hari kutaburkan untuknya
19 Maret 2007 22.38
3
lagi-lagi ada hujan di matanya
entah sedih macam apa yang menyentuhnya
sementara makna hanya nol saja
dan kata kini cuma bangkai yang nazar saja
takbernafsu memakannya
dan cinta sama nasibnya
26 Maret 2007 21.50
4
sakit ini takpernah hilang, Sayang
kau bisu aku kelu
ruang kita kedap suara
taksampaikah padamu nyanyian itu
atau kita sama-sama jatuh cinta pada luka
ah palsu!
07 Mei 2007 23.15
5
Manis, bukankah kau yang telah panggilkan angin
untuk terbangkan layang-layangku
saat kau bersiul, takhanya angin yang datang
tapi juga cinta yang bawa tarian
lalu aku rindu gemulaimu
24 Mei 2007 22.01
6
nyanyi malam taklagi merdu
sebab telah sunting bisu
ia cemburu pada mesin yang gemuruh
tapi rinduku takhilang nyali
walau manusia saling gonggong
usir anjing yang melolong
dan malam terus sunyi
25 Mei 2007 23.23
7
angan adalah ruang tanpa gravitasi
semua melayang mencapai gitanya
tanpa sayap tapi melesat
dan gitaku adalah kamu
maka ijinkan aku lesap bersama mimpimu,
wahai pengantinku
26 Mei 2007 23.20
8
siapa sebenarnya kamu?
mengetuk pintu malam buta,
lalu menyimpan bunga.
kalau saja aku tahu,
ingin aku mengajakmu nikmati pagi
dengan segelas teh melati
apa bisa kau penuhi?
09 Juni 2007 23.36
9
aku lelah menggambar tanda untuk cinta
semuanya seperti remang di matamu
aku penat mencari cara
sebab takjua kau terbangkan sayap-sayap itu
apa harus migrasiku
untuk mencari yang punya hati?
14 Juni 2007 20.54
10
ia mau aku jadi sayapnya
tapi itu luka
dan aku takpunya hati untuk dibagi
hati telah mati,
ditikam beribu cinta imitasi
kutunggu ia bereinkarnasi
menjadi sepotong senja
20 Juni 2007 21.51
11
kemarin
kutemukan bunga di kerudungmu layu, Manisku
tapi masih ada senja yang keemasan
yang terus menyepuh rinduku
dan senja itu selalu terbit dari matamu
dengan seribu siluet yang sayu
28 Juli 2007 21.03
12
walau mungkin malam mereka
adalah malam jahanam
tapi kita itu do’a
maka sapalah, Sayang
dan ia akan menghadiahkanmu
seribu mimpi dan pagi murni
06 Agustus 2007 00.03
13
setiap kulihat bulan keperakan
menggantung di langit temaram,
aku ingat kamu
sebab keteduhannya sama benar
dengan keteduhan matamu
membuatku jatuh cinta pada cahaya yang sederhana
percaya?
06 Agustus 2007 19.26
14
desau angin yang kau dengar
adalah rinduku, Manisku
bisuku sebenarnya semacam kasih sayang
ia lebih bermakna dari seribu surat cinta
dan mataku padamu
adalah bunga di altar isyitar
04 September 2007 23.18
NB:
Puisi-puisi di atas adalah karya sahabat saya yang bernama pena Zack Al Gebra. Semua puisi itu pernah dikirimnya melalui SMS pada saya. Sejatinya, puisi-puisi itu bukan ditujukan untuk saya, tetapi untuk seorang wanita dambaan hati Zack sejak lama. Zack menjulukinya Gadis Gurun Sahara. Sungguh tepat menurut saya, karena siapa pun yang mengenal si gadis akan sependapat bahwa gadis itu bagai oase di gurun pasir: menyejukkan hati siapa pun yang berada di dekatnya. Puisi-puisi itu dikirim Zack pada saya untuk saya kritisi, bagus atau tidaknya. Tidak tahu dia bahwa saya sangat mengagumi puisi-puisi buah tangannya. Baca saja, romantis dan puitis sekali, bukan? Menurut saya, kata per kata-nya jauh dari kesan gombal yang dibuat-buat. Sebaliknya, justru mencerminkan ketulusan dan kebeningan hati seorang manusia saat mendamba.
Jika harus memilih mana yang paling saya sukai, di antara semuanya, saya sangat menyukai puisi No.13. Mungkin karena saya selalu memandangi hujan jika sedang merindu (halah, apa hubungannya? heuheuheu…). Seandainya saja Zack memiliki keberanian untuk mempersembahkan semua puisi ini sekaligus meminang sang pujaan, niscaya gadis itu akan luluh hatinya. Yah, semoga Allah swt. menakdirkan seorang bidadari untukmu, Sahabatku, di dunia dan akhirat nanti. Siapatahu Allah swt. menakdirkan sang oase untukmu. Seperti kata ibu Fahri di film Ayat-Ayat Cinta: “Siapa pun bisa menjadi jodohmu, Fahri.” Siapa pun bisa menjadi jodohmu, Zack. Jadi, amin-in aja, dan tetap ikhtiar…
Ngomong-ngomong, kelak, saya akan “paksa” suami saya untuk membuatkan saya puisi-puisi yang jauh lebih bagus dari puisi-puisi ini, dan dia harus mampu! Heuheuheu…
Diiringi petikan gitar Kaki King yang menakjubkan dalam “Bari Improv” (OST August Rush), setelah terjadi percakapan singkat antara saya dan Zack Al Gebra, Hegarmanah, 20 April 2008, pkl.21.12.
Skripsi Woy!
Rasanya saya masih saja belum percaya bahwa semua ini akan saya jalani: menyusun skripsi sebagai syarat kelulusan. Rasanya baru saja kemarin saya melihat nama saya tercetak di koran, di antara deretan lulusan SMA yang lolos SPMB. Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki, untuk pertama kalinya, di kampus Unpad Dipati Ukur, lalu di kampus Unpad di sebuah daerah nan indah nan panas nan sumpek bernama Jatinangor. Rasanya baru kemarin saya berpeluh penuh semangat dengan tampang culun dan lugu saat menjalani OSPEK. Rasanya baru kemarin saya masih terlibat aktif dalam berbagai kesibukan himpunan jurusan saya. Sungguh, rasanya baru kemarin…
Tiba-tiba saya merasa rindu. Rindu masa-masa takterlupakan itu, masa-masa perkembangan kepribadian saya yang beralih dari kepribadian seorang anak SMA ke kepribadian seorang mahasiswa. Juga rindu, pada “kakak-kakak” tercinta yang sempat dekat dengan saya, yang lebih dulu menginjakkan kaki di kampus. Ada cukup banyak nama yang memberi kesan di hati sebelum “menghilang”. Julukan “senior” yang dulu terdengar menyeramkan dan membuat jantung dag-dig-dug kini malah membangkitkan begitu banyak memori spesial. Senang, sedih, kesal, marah, malu, berbagai perasaan pernah muncul karena kehadiran mereka. Ah, sungguh, saya rindu…
Kini, ada beberapa nama di antara “kakak-kakak” saya itu, baik laki-laki alias para Akang maupun perempuan alias para Teteh, yang sudah lebih dulu mendahului saya menikah. Di antaranya bahkan ada yang sudah menimang sang buah hati. Duh duh, iri jadinya. Hehehe… ^.^ Selain itu, para Akang dan Teteh yang berbeda satu angkatan dengan saya kini banyak yang sudah bekerja. Tidak heran, toh selagi saya berinteraksi dengan mereka di kampus, saya bisa merasakan aura kecerdasan yang mereka pancarkan. Aura yang selalu membuat saya merasa terkagum-kagum dan berprediksi bahwa kelak mereka akan dimudahkan Allah dalam menggapai cita. Benar saja, begitu selesai diwisuda, sosok-sosok mereka segera menghilang dan beredar kabar bahwa mereka dengan mudah mendapat pekerjaan yang didambakan. Lagi-lagi saya merasa iri… ^.^”
Bagaimana dengan saya?
Skripsi, skripsi, dan skripsi. Kata itu yang kini selalu merajai benak saya, menguras segala tenaga dan pikiran saya. Hingga saya divonis anemia saking begitu terfokusnya saya memikirkan hal yang satu ini. Hiks… Alhamdulillah, saya sangat bahagia dan bersyukur ketika usulan topik dan bab 1, yang saya ajukan 14 April lalu di hadapan 4 orang dosen penguji, diterima. Dua orang dosen sudah ditunjuk untuk menjadi pembimbing saya dalam menyusun skripsi selama lebih kurang dua bulan ke depan. Alhamdulillah lagi, dosen-dosen pembimbing saya, Bu Wagiati, M.Hum. dan Pak Tatang Suparman, Drs., termasuk dosen-dosen yang saya akrabi. Mohon bantuannya ya Bu, Pak! Heu…
Saya menargetkan waktu penyusunan skripsi tidak akan melebihi minggu terakhir Juni 2008. Jika lancar (dan semoga memang dilancarkan Allah, amin!), sidang skripsi akan saya jalani awal Juli 2008. Setelah itu, sebulan setelahnya, Agustus 2008, saya tinggal diwisuda. Semoga… semoga…
Hanya saja, saya sedang merasa kebingungan sekarang. Bukan apa-apa, saya masih saja kebingungan mengatasi rasa malas saya yang seringkali muncul. Kemalasan itu mengalahkan semangat menggebu-gebu saya dalam mengejar target. Hiks hiks… Seminggu setelah sidang topik, saya masih belum mengutak-atik lagi bab 1 dan bab 2 yang telah diminta oleh Pak Tatang. Alasannya, saya masih berkutat di pengklasifikasian data yang menjadi dasar bab 3. Kenapa bisa begitu lama berkutat di sana? Ya itu tadi, kemalasan membuat saya tidak memanfaatkan waktu dengan seefektif dan seefisien mungkin. Padahal, minggu ini saya libur 4 hari: Rabu, Kamis, Sabtu, dan hari ini
Mungkinkah karena kurangnya motivasi? Bisa jadi. Selama ini motivasi itu muncul dari orang-orang yang dekat dengan saya, yaitu para sahabat. Sementara itu, dari keluarga sendiri terus terang saya tidak merasakan adanya motivasi yang memunculkan semangat saya. Mungkin karena saat ini keluarga saya sedang terlalu sibuk mengurusi kakak laki-laki saya yang sedang membangun rumah, juga kakak perempuan saya yang berencana menikah akhir tahun ini. Akibatnya, saya pun terabaikan. Hehehe… Sejujurnya, semua itu tidak saya pikirkan karena sejak dulu keluarga tidak pernah menjadi motivator utama saya dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu. Motivator utama saya selain diri saya sendiri, biasanya para sahabat terdekat saya. Yah, meski itu pun tidak selalu berhasil membangkitkan semangat saya, seperti saat ini
Yang saya sesali, ada orang-orang yang (sepertinya) merasakan efek kemalasan dan ke”soksibuk”an saya ini:
* Leny:
Udah lama juga diriku tidak mendengar curhatanmu. Maafin ya, Nek ![]()
* Mira:
Sok lah sekarang mah bisa konsultasi apa aja tentang kosakata psikologi, Ceu. Heuheu… ![]()
* Anis:
Qta berjuang sama-sama qo, meski takselalu harus bersama. Semangat!
* “Teteh”ku tersayang:
Afwaaaaaaaan, gak akan lalai lagi!!! ;(
* Uti, Dewi, Nidia, Meli:
Qta saling mendo’akan ya! Ayo siapa coba siapa, yang wisuda dan nikah duluan? Heuheuheu…
)
* Tika:
Syukron buat buku Bukan Muslimah Sembarangan-nya. Asli bermanfaat banget!
Iya, revisi draft-mu akan kulakukan dengan sepenuh hati. Mana atuh mana?
* Kang Donny:
Afwan karena daku belum juga nge-update Katapengantar. Rancangan-rancangannya udah ada sebenarnya, tapi di-publish nanti aja ya ![]()
* Adi Kaitou:
Bukan diriku yang menghilang, tapi dirimu :D I need your advice again about “think positive” and “be sure“ tea, Di! Butuh pisan euy!
* Semua sahabatku di Sasindo 04:
I love you all, REALLY! Hanya saja, buat sekarang biarin diriku egois dulu yah? Plis…. ^.^
Juga buat nama-nama yang gak bisa saya sebutkan di sini, mungkin kata maaf takberarti, jadi saya mohon pengertian dan do’anya aja ya?
* Oci yang lagi pengen egois
*
Di sela saat-saat mengutak-atik data, Hegarmanah, 20 April 2008, pkl. 18.50.
Hujan Berselimut Kabut: Tujuh Penggal Episode [Re-Post]
1
“Tunggu, apa kita pernah bertemu?”
Kalimat terawal yang meluncur begitu saja dari mulutku.
Hujan masih turun rintik-rintik, mencipta titik-titik mungil di rambutnya, wajahnya, punggung tangannya…
“Apa kita pernah bertemu?” ulangku sembari mendekat beberapa langkah padanya.
Hujan masih turun rintik-rintik, dan kedua bola mataku menatapnya tajam, penuh selidik sekaligus ingin tahu…
Ia membisu dan malah balas menatapku.
“Jawablah, saya mohon…” ucapku lagi.
Ya, sepertinya kita pernah bertemu, di suatu tempat, di suatu ruang waktu. Hanya saja: di mana dan kapan?
“Apa kita ada untuk saling mencari?”
Aku kian mendekat padanya, menghapus jarak pembatas.
“Ya, memang begitu,” jawabnya, akhirnya.
Hujan masih turun rintik-rintik, dan tetes airnya jatuh ke pipi, menindih air mata yang keluar dari mataku…
“Kita sudah saling menemukan, jadi apalagi yang kita nanti?” tambahnya.
Jemarinya mulai menggenggam tangan kananku, dan ia mengajakku melangkah.
“Ke mana?” aku bersuara, walau lirih.
Ia menatapku sambil tersenyum mendamaikan.
“Ke tempat yang jadi tujuan awal hidup kita, impian seluruh manusia di bumi, dan aku selalu bermimpi menujunya bersamamu…”
Hujan tidak lagi turun, dan seberkas cahaya perlahan muncul dari sekujur tubuh lelaki itu. Hangat… merembes masuk ke dalam aliran darahku, menguapkan air mataku.
“Tempat apa itu?” tanyaku sambil membalas senyumnya, bahagia.
“Surga.”
2
“Aduh! Ga usah jitak gitu dong! Sakit nih!”
“Raini-ku sayang, kamu tuh ya kalo udah ngebet pengen nikah jangan cuma berani mimpi dong! Bilang aja ke murobbiyah kita tercinta, ntar bliau cariin.”
“Emang ada yang mau sama aku, Sri?”
“Insya Allah! Kamu jangan pesimis gitu dong! Kriteria: ikhwan hanif, aktivis, cakep hatinya, anak sulung, lebih tua beberapa taun, cinta sama Allah di atas segalanya, humoris, dewasa, bijaksana, cerdas, romantis, gawe jelas, dan jago masak, bener ga?”
“Em… idealnya si gitu, Sri, tapi… kayaknya gak mungkin deh! Gak pantes aku mimpi ada ikhwan kayak gitu yang minta aku jadi istrinya! Aku kan bukan aktivis, belom pantes disebut akhwat, wawasan agama terbatas, urakan, manja, egois, dan ga bisa masak!”
“Iiiih, Raini! Optimis dong! Gitu-gitu juga kamu manis, lucu, humoris, setia, ga banyak maunya, ga matre, ga liat fisik, trus… ah, pokonya kamu juga punya banyak kelebihan kok! Percaya deh!”
“Lagipula, emang ada ikhwan yang menuhin semua kriteria itu?”
3
Ia menyukai hujan, teramat sangat suka. Mungkin karena ia terlahir di kota yang terkenal sebagai Kota Hujan di Indonesia ini. Yang jelas, satu hal yang paling dinantikannya adalah saat awan berlapis mendung, dan tetes-tetes hujan membasahi bumi. Biasanya ia akan keluar dari rumah, lalu berdiri beberapa saat sambil menengadahkan kepala, memejamkan mata, mengulas senyum di wajah, dan meraup air hujan dengan kedua belah tangannya. Ia tidak peduli hujan menguyupkan bajunya, merembesi sekujur tubuhnya. Ia tidak memedulikan segala kemungkinan yang akan terjadi jika ia melakukan ini semua, entah itu kepalanya yang bisa saja menjadi pening, atau badannya yang bisa saja menggigil kedinginan.
Yang ia indrai hanya kenikmatan dan kepuasan itu.
Hujan:
Anugerah terindah yang Allah ciptakan, menyegarkan kekeringan bumi, menghapus emosi dan menenangkan jiwa.
Sejak ia kecil, sejak ia pertama kali menyadari rahasia alam yang tampak begitu indah di matanya, ia mulai menumbuhkan kebiasaan itu. Berdiri sendirian merasakan titik-titik air hujan menitiki tubuhnya, seakan membasuh kekeruhan hatinya, mengembalikan kejernihannya.
Hujan kali ini turun rintik-rintik.
Entah kenapa, kali ini bukan hanya tetes-tetes air hujan yang mengaliri tubuhnya, tetapi ada tetesan lain, mengalir dari kedua matanya yang terpejam.
Air mata.
Baru kali ini ia merasa sendirian. Baru kali ini ia menyadari makna sendiri dan sepi.
Ia tenggelam dalam larutan kesenyapan yang pekat.
Ia merasa ingin didampingi.
Ia merasa membutuhkan teman untuk berbagi rasa.
Ia ingin menikmati hujan dengan seorang manusia yang berarti.
Dan tentu saja: yang mencintai hujan sepertinya.
Hujan, adakah bidadari di dunia ini yang mencintaimu sepertiku?
Jika ada, datangkanlah ia ke tempatku.
4
Raini memandangi selembar foto setengah badan berukuran 4R yang terselip di dalam map itu. Duhai, sepertinya lelaki ini begitu tidak asing… apa hanya perasaanku? Rambutnya, matanya, senyumnya…
“Hush, fotonya jangan diliatin terus gitu! Ntar belom juga ketemu kamu udah jatuh hati, heuheuheu…”
Raini tersentak dan cepat-cepat membereskan kembali berkas-berkas yang sedang diamatinya. Teguran murobbiyah-nya membuatnya beristigfar berkali-kali dengan hati kebat-kebit. Wajahnya merona, malu.
“Gimana? Cocok? Betapa takdir Allah sangat terencana dan indah. Beberapa menit sebelum kamu ke sini, eh ada yang nganterin ini. Niatnya sama dengan kamu, Ra. Jangan-jangan kalian berjodoh…”
“Wallahualam, Teh. Mungkin ya, mungkin juga gak, cuma Allah yang tau…”
“Yaudah, kamu bawa aja dulu, baca bener-bener datanya. Jangan lupa istikharah. Kapan pun kamu siap, hubungi saya, nanti saya urus semuanya, Insya Allah.”
“Jazakillah, Teh.”
“Hari ini juga saya kabari beliau dan ngasih data kamu ke dia. Banyak-banyak berdoa ya, Ra. Semoga Allah ngasih kamu yang terbaik,”
“Yaah… amin-in aja deh, Teh.”
5
Shinta Nuraini.
Panggilan saya bukan Shinta atau Nur, tapi Raini.
Alasannya sederhana saja:
Karena sejak kecil, saya sangat mencintai hujan.
Seandainya hujan adalah sebentuk benda yang bisa saya genggam, akan saya bawa kemana-mana. Dengan begitu, saya bisa menikmatinya kapan saja di mana pun yang saya inginkan.
6
Kabut Pratama Putra.
Bisa ditebak, saya putra pertama. Adik saya perempuan, masih SMA.
Saya biasa dipanggil Kaka, lengkapnya Kabut.
Walaupun nama saya Kabut, tapi saya tidak suka kabut, karena kabut penuh ketidakpastian dan mengaburkan apa yang seharusnya jelas terlihat. Saya tidak ingin seperti itu. Saya lebih suka hujan, karena saya ingin menjadi penyegar kekeringan dunia.
7
Suatu hari…
Ada guratan senyum terukir di dua wajah.
Ada getaran ganjil berdenyut di dua jantung.
Ada jutaan syukur terucap di dua mulut.
Ada buncahan bahagia menebal di dua hati.
Ada bulatan tekad terpatri di dua jiwa.
Ada dua manusia saling menautkan jemari.
Keduanya menikmati hujan berdampingan.
Keduanya saling menatap dan tertawa ringan.
Keduanya menikmati tetes-tetes air yang membasahi tubuh.
Hingga waktu seakan berhenti berdetak.
Lalu hujan berselimut kabut, malam itu.
[reaksi atas rasa rindu hati ini akan hujan yang sudah sangat lama terpenjara matahari -- ditemani lagu-lagu Dewi Lestari]
NB:
Pagi ini benar-benar pagi yang indah. Sejak keluar rumah hingga menginjakkan kaki di Jatinangor, rintik hujan takkunjung berhenti
Tiba-tiba saja saya ingin me-Re-Post cerpen yang saya buat sekitar 20 bulan yang lalu ini. Tiba-tiba saja saya merindukannya. Heuheuheu…
Oya, cerpen ini dapat dilihat juga di sini.
Jatinangor, Connect No.7, pkl.07.55
Falling Slowly
I don’t know you, but I want you
all the more for that
and words fall through me and
always fool me and I can’t react
And games that never amount
to more than they’re meant
will play themselves out
Take this sinking boat
and point it home
We’ve still got time
Raise your hopeful voice
You had the choice
You’ve made it now
Falling slowly, eyes that know me
and I can’t go back
Moods that take me and erase me
and I’m painted black
Well, you have suffered enough
and warred with yourself
it’s time that you won
Falling slowly, sing your melody
I’ll sing along
Call and I’ll sing along
Performed by: Glen Hansard & Marketa Irglova
[ Taken From Original Soundtrack Once ]
Review:
Lagu ini berada di urutan pertama Playlist Winamp di kompie saya. Rasanya tidak bosan-bosan mendengarkan lagu ini, lagi dan lagi. Have you ever heard this song? Petikan gitar Glen, dentingan piano Marketa, suara khas Glen dan Marketa, menyatu jadi musik yang begitu… amazing! I love it! :)
Takperlu Tahu
Kau takperlu tahu
sesering apa aku mengingatmu
serindu apa aku padamu
seperih apa aku memendam asa
Kau juga takkan pernah mengira
sebanyak apa aku mendo’akanmu
setiap detik setiap menit setiap jam
semua takperlu kautahu
Kau takperlu tahu
rinduku terhadapmu
bahagiaku untukmu
sedihku kehilanganmu
Karena kita takpernah tahu
apa yang kita sama-sama tahu
dalam hati
Kau hanya perlu tahu
semua itu takpenting
setakpenting awan yang merela hilang karena hujan*
setakpenting kayu yang merela hangus karena api**
setakpenting adaku
Dan kita takperlu tahu apapun
selama apa aku akan menantimu
mungkin hingga kautangkap kilau seorang Hawa
yang tertakdir hanya untukmu
entah siapa entah di mana
Lalu separuh duniaku akan hilang
sehilang langkahmu yang akan menjauh
pergi
NB:
Heu… kambuh lagi melankolisnya >_<
Ya Allah, ampuni diriku yang lemah ini….
* dan ** diadaptasi dari puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono
Jatinangor, Connect No.10 pkl.10.20
Pertemuan Pagi Ini
Pagi ini pagi yang cerah di Jatinangor. Begitu saya turun dari bus sekitar pukul 7.15, matahari sudah meraja di sini. Diiringi lantunan instrumental Gelap ‘Kan Sirna – Erwin Gutawa, saya melangkahkan kaki tanpa prasangka apa-apa. Menyeberang di sekitar Pangkalan Damri Jatinangor, pikiran saya entah di mana. Mengawang-awang tanpa berpijak ke tempat saya berada. Pandangan mata saya pun tidak fokus. Seperti melihat ke arah yang saya lihat, padahal entah apa yang sebenarnya sedang saya angankan sedang saya lihat. Hmm… semacam lamunan pagi yang tidak biasanya. Refleksi kegundahan hati saya sejak awal tahun ini, mungkin.
Ketika akan melewati pengecer koran pertama yang saya temui, tiba-tiba telinga saya menangkap sebuah suara yang memanggil nama akrab saya. Pikiran saya terjerembab ke bumi begitu saja. Pandangan mata saya mulai saya fokuskan pada arah sumber suara. Lalu… deg! Dia ada di sana, duduk di atas kursi tempat para pembeli batagor di depan kios makanan. Saya tercekat. Satu detik, dua detik… Dia tersenyum kecil sambil menatap saya, sementara saya masih terpaku. Syukurlah pada akhirnya saya berhasil menyunggingkan sebuah senyum, walau saya yakin terlihat kaku dan dipaksakan.
“Assalamu’alaikum!” sapa saya pelan.
Dia melebarkan senyuman tanpa beranjak dari tempat duduknya, “Wa’alaikum salam. Mau ke mana, Ci?”
“Mmm… ke kostan temen,” jawab saya sambil tetap memaksakan senyum.
“Oh…”
“Yu ah,”
Saya melambaikan tangan dan segera berbalik. Secepatnya saya ingin meninggalkan tempat itu dan dirinya. Hingga sampailah saya di sini, di warnet ini. Sapaan AC membuat tubuh saya menggigil, beku. Sebeku hati dan otak saya, sepertinya.
Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang teman. Teman yang akrab dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengan saya dulu. Namun, pertemuan pagi ini menohok saya lagi. Suara-suara bergema di benak saya, meneriakkan kata: “Egois! Egois! Egois!”, berulang-ulang dan terus bergema. Menerbitkan rasa bersalah di lubuk hati. Membuat saya menghela napas panjang, kebingungan. Salahkah saya? Salahkah saya menyikapi apa yang saya anggap tidak menyamankan saya?
Pertama kali saya mengenalnya lebih kurang tiga setengah tahun lalu, ia tampak sebagai sosok manusia yang humoris, cerewet, aktif di berbagai kegiatan kampus. Kami tidak akrab, hanya sering bertemu tidak sengaja tiap kali saya mencari sosok sahabat akrabnya di sekretariat DKM fakultas. Dulu kami hanya saling mengucap salam sambil berbagi senyum. Tak ada yang istimewa. Hingga sahabat akrabnya itu lulus dan ”hijrah” ke Jakarta untuk bekerja. Hingga pada suatu ketika sekitar 2 bulan yang lalu, kami tidak sengaja bertemu di Landmark saat diadakan pameran buku di sana.
Sejak itu, semua taklagi sama.
Awalnya biasa-biasa saja. Di sana kami mengobrol tentang kabar kami masing-masing, tentang kampus, tentang wisudanya (saat itu dia memang telah lulus), hingga dia menawari saya berbagai program komputer yang dimilikinya, lalu mengajak saya bertemu di kampus beberapa hari setelahnya. Saya mengiyakan saja tanpa prasangka apa pun. Anehnya, setelah pertemuan di kampus yang sangat biasa-biasa saja itu, sikapnya berubah. Dia mulai sering mengajak saya bertemu tanpa alasan yang jelas, juga mulai mengirimi saya SMS yang isinya membuat kening saya berkerut keheranan (bisa ditebak bukan seperti apa isinya? ^.^), juga mulai menelepon saya tanpa alasan yang jelas dan topik obrolan yang tidak penting (menurut saya). Ada apa ini?
Saya mulai berpikir ulang tentang sikapnya yang semakin hari semakin membuat saya tidak nyaman. Saya mulai mengabaikan semua SMS dan telepon-teleponnya. Saya mulai menghindar tiap kali saya melihat sosoknya di kampus. Saya mulai takut pada prasangka yang muncul di benak saya tentangnya. Hingga saya secara jujur mengatakan padanya bahwa saya merasa terganggu dengan sikapnya, bahwa saya berdo’a semoga hati kami dibersihkan dari segala prasangka. Dia pun meminta maaf, tapi setelahnya sikapnya tidak juga berubah pada saya. Jelas saya semakin merasa bingung, bahkan jengkel. Apalagi waktu itu pikiran saya sedang coba saya fokuskan untuk mencari topik skripsi yang sudah ditagih dosen.
Pada akhirnya, saya mengangkat telepon terakhirnya di suatu pagi pertengahan bulan lalu, dengan tanggapan yang teramat dingin. Terus terang itulah puncak kepenatan saya menghadapi semua sikap anehnya. Sejak itu, dia pun tidak pernah menghubungi saya lagi. Di kampus pun sosoknya tidak pernah terlihat. Baguslah, pikir saya waktu itu. Toh saya juga sedang fokus membenahi bahan-bahan usul penelitian skripsi saya, jadi tidak ada waktu bagi saya untuk sekadar memikirkan hal ini. Waktu pun berlalu, dan pagi ini saya bertemu dengannya lagi.
Ya Allah, egoiskah saya waktu itu? Padahal bisa saja saya secara jujur sejujur-jujurnya mengungkapkan ketidaknyamanan saya akan sikapnya, bisa saja saya memastikan padanya apa sebabnya ia bersikap seperti itu pada saya, bisa saja saya secara tegas memintanya menjaga jarak dari saya saat itu juga untuk membersihkan hati kami dari segala prasangka. Tapi, saya tidak melakukan itu semua. Duh, saya jadi merasa bersalah begini. *menghela napas panjang untuk kesekian kalinya* Saya tidak pernah ingin menyakiti orang lain sebenarnya, tapi seringnya saya tanpa sadar melakukan itu. Lalu, ketika saya sadar, hanya penyesalan yang ada, lalu kebingungan, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?
Hmm… semoga dia bisa memaafkan saya jika saya memang telah membuatnya sakit hati atau terluka. Semoga Allah selalu menjaga hati dan pikiran kami, selalu..
Jatinangor, Connect No.10, pkl.09.51
Salam Perkenalan dari Sang Putri
Kumpulan sketsa ini tercipta karena sebuah ketidaksengajaan. Ada kesalahan yang saya perbuat sehingga saya terpaksa menghapus kumpulan sketsa saya di blogspot sekitar 1 jam yang lalu. Heuheuheu…
Karena itu, kumpulan sketsa saya yang baru di Wordpress ini saya buka dengan sebuah puisi:
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu
hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan
sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya
kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-
rintik di lorong sepi pada suatu pagi.
(1973)
(“Pada Suatu Pagi Hari” karya Sapardi Djoko Damono dalam buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni)
Selamat datang di sini…
Saya hanya seorang pencinta hujan yang gemar berkhayal, bermimpi, dan bercerita.
Ada begitu banyak cinta dalam diri ini yang taktercurahkan.
Takterhitung berapa banyak mimpi yang belum jua terwujudkan.
Seluruh renungan, lamunan, ide, inspirasi, aspirasi, rasa marah, kesal, sedih, gembira…
Ah, sudah terlalu jarang saya deskripsikan dalam rentetan kata-kata.
Selain itu,
manusia-manusia satu per satu datang mengetuk “pintu kehidupan” saya, masuk, kemudian beranjak pergi.
Ada yang berpamitan, ada yang tidak.
Ada yang meninggalkan jejak, ada yang begitu saja terlupakan.
Kenangan pun semakin membukit bahkan menggunung.
Semua itu mendesak saya untuk kembali menggerakkan jemari ini untuk menuliskannya.
Sudikah membaca kisah saya?
Jika ya, silakan mulai membaca.
Lalu, mari kita berbagi.
NB:
Jika ada waktu, silakan berkunjung ke blog saya yang “numpang” di Friendster.
Jika tidak sempat, sebagian postingan yang ada di sana (juga di blogspot yang terpaksa saya hapus) telah saya seleksi dan saya Re-Post di sini.
Selamat membaca!
(^^;)
[Rosi Rosmala Dewi a.k.a. Putri Hujan]
Jatinangor, Connect No.12 pkl.12.52

