Archive for August, 2008

Empat Tahun Terlewat

Tadi pagi, saat saya menaiki bus DAMRI Dipati Ukur-Jatinangor, kampus Unpad penuh sesak oleh para mahasiswa baru yang akan menjalani Pengenalan Kampus alias OSPEK Universitas. Di benak saya, kenangan empat tahun yang lalu terbayang kembali di depan mata. Ada saya di sana, di antara kerumunan mahasiswa-mahasiswa baru itu: sendiri, nervous, culun, berkeringat dingin, senang, takut, semangat, dan deg-degan. Betapa semua perasaan itu masih saya ingat.

Lalu di bus, saya mengamati diri saya sendiri yang sekarang: sendiri, kesepian, biasa-biasa saja, tidak istimewa, belum punya rencana masa depan yang jelas, sering tidak puas dengan apa yang saya jalani, tapi masih punya semangat dan tekad yang teguh untuk menjalani hidup.

Lalu pandangan saya kembali jatuh pada mereka, lulusan fresh dari SMA-SMA berbagai daerah di Indonesia, dan entah mengapa tiba-tiba saya merasa iri. Ingin rasanya kembali menjadi mereka, rindu rasanya menjalani OSPEK dan berkeliaran di lingkungan kampus, daripada susah-susah bekerja, mencari kerja, membanting tulang bekerja keras menghidupi diri agar mandiri dan membuat orang tua merasa bangga memiliki anak sarjana yang berguna.

Lalu saya tersenyum sambil menghela napas, dan berpikir:

“Sudahlah, toh bagaimanapun juga saya pernah menjadi mereka, dan itu saja sudah cukup membahagiakan. Semoga saya tidak akan pernah lupa bersyukur pada-Nya atas hidup yang saya jalani sekarang….”

Semua kenang-kenangan (yang manis) terbayang kembali.
Dan aku sadar bahwa semuanya akan dan harus berlalu.
Tetapi ada perasaan sayang akan kenang-kenangan tadi.
Aku seolah-olah takut menghadapi ke muka dan berhadapan dengan masa kini
dan masa lampau terasa nikmatnya.

(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, 5 Agustus 1961)

Jatinangor, Connect No.9, pkl.10.10

[satu minggu sebelum Pak Dekan dan Pak Rektor mengesahkan saya menjadi Sarjana Sastra :) ]

Bank Budi

“Coba baca The Zahir. Buku yang bagus.”

Saya tersenyum menanggapi, “Dari dulu udah niat, tapi belum kesampaian juga.”

“Di dalamnya ada istilah Bank Budi….”

“Apa yang dimaksud dengan Bank Budi?”

“Kau tahu. Semua orang tahu.”

“Mungkin, tapi aku belum bisa menangkap sepenuhnya apa yang kaumaksud.”

“Istilah itu diperkenalkan pertama kali oleh seorang penulis Amerika. Bank Budi adalah bank paling kuat di dunia, dan kau bisa menemukannya di setiap aspek kehidupan.”

“Ya, tapi aku berasal dari negara yang tidak punya tradisi membaca. Jasa apa yang bisa kusumbangkan pada orang lain?”

“Sama sekali bukan masalah. Kuberi satu contoh: aku tahu kau penulis yang punya masa depan, dan suatu hari nanti kau akan sangat berpengaruh. Aku tahu karena, seperti kau, aku dulu juga punya ambisi, merdeka, jujur. Sekarang aku tidak lagi punya energi seperti dulu, tapi aku ingin membantumu karena aku belum bisa atau belum mau berhenti. Aku belum ingin pensiun. Aku masih memimpikan perjuangan hidup, kekuasaan, dan kemegahan.

“Aku mulai menyimpan di rekeningmu–bukan simpanan uang, tapi kontak. Kukenalkan kau pada orang ini dan orang itu, aku mengatur perjanjian-perjanjian, selama tidak melanggar hukum. Kau tahu kau berutang budi padaku, tapi aku tak pernah minta apa pun darimu.”

“Dan suatu hari…”

“Persis. Suatu hari, aku akan minta tolong padamu dan kau bisa saja mengatakan ‘Tidak’, tapi kausadari bahwa kau berutang budi padaku. Kaulakukan apa yang kuminta, aku terus membantumu, dan orang-orang lain melihat kau orang yang tahu membalas budi, jadi mereka pun mulai menyimpan di rekeningmu–selalu dalam bentuk kontak, karena dunia ini hanya terdiri atas kontak, tidak ada yang lain lagi. Mereka pun pada suatu hari akan minta bantuan padamu, dan kau akan menghormati dan membantu orang-orang yang pernah membantumu, dan, pada saatnya, jaringanmu akan melebar ke seluruh penjuru dunia, kau akan kenal semua orang yang perlu kaukenal, dan pengaruhmu akan tumbuh semakin besar.”

[disadur dari The Zahir karya Paulo Coelho, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan Kedua 2006, hlm.53-54]

“Itulah sebabnya saya senang berteman, dan enggan punya musuh.”

Itukah sebabnya kamu takingin kehilangan saya, agar utang budimu pada saya terbayar lunas? gumam saya dalam hati.

“Yah, betapa tidak mengenakkannya punya musuh,” komentar saya pelan.

“Dalam hidup kita selalu seperti itu,” lanjutnya. “Berteman, berbagi kebaikan, dengan harapan, langsung maupun tidak, pada suatu saat kebaikan itu akan kita terima kembali.”

“Selalu seperti itukah?”

“Ya. Selalu seperti itu.”

Lalu, apakah kita layak bertanya pada seseorang atau semua orang yang terlalu baik pada kita mengenai makna kebaikannya? Seperti, ‘kenapa kamu terlalu baik’? ‘Apakah untuk mendapatkan balasan kebaikan’? ‘Atau dengan maksud-maksud tertentu’? Perlukah pertanyaan-pertanyaan itu? Toh mereka, sadar ataupun tidak, sedang “menabung” di Bank Budi hidup kita, bukan? Dalam keyakinan kita, mereka juga sedang “menabung pahala” untuk kebahagiaan mereka di akhirat kelak. Kelak, Dia akan membalasnya dengan setimpal. Jadi, kenapa kamu masih saja berlaku seakan kamu wajib membalas segala kebaikan-kebaikan saya? Terpaksakah kamu?

“Kamu baik sekali.” ucap saya sambil tersenyum lebar.

“Ya. Kita kan teman.” balasnya dengan senyuman kecil.

“Ya. Terima kasih.”

Lalu kami mengucapkan salam perpisahan, seperti biasa, seakan-akan tanpa beban, klise:

“Sampai bertemu lagi, Teman.”

Kami masing-masing berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan, dan saya benar-benar ragu bahwa saya akan bertemu lagi dengan teman saya yang satu ini, di waktu-waktu berikutnya.

Jatinangor, Connect No.10, pkl.10.20